Ziarah Kubur

Ziarah Kubur, Nyekar atau Nydran adalah beberapa kata yang berbeda tapi memiliki arti yang hampir sama. 

Dulu ketika aku masih kecil, eyang putri pernah berpesan, "kelak, jika dalam perjalanan hidupmu kau melihat hantu atau demit, betapapun takutnya dirimu, jangan lari. Bacakan saja Al Fatihah. Mereka pasti pergi..."

Dalam pikirku dulu, hantu atau demit itu lari ketakutan setelah mendengar bacaan Al Fatihah yang ditujukan padanya. Tapi ternyata....

Mereka bukan lari ketakutan. Tapi mereka merasa senang karena harapannya terpenuhi lalu menghilang. Jika kalian berani menatap mereka, sesunguhnya sebelum menghilang mereka tersenyum senang. Tapi karena bentuk mereka yang menyeramkan, senyum senang itu terlihat seperti seringai yang menakutkan.

Aku tidak bisa melihat makhluk halus. Tapi secara batin aku tahu keberadaan mereka. Dan jika aku mau fokus, aku akan tahu apa yang sudah mereka alami. Itu sanggat menggangguku. Karena itu aku selalu menutup mata batinku rapat-rapat agar tidak 'berkelana' kemana-mana. Dengan cara itu aku menjaga 'kewarasanku'.

Namun kadang rasa penasaran mengkhianati aku.

Seperti hari ini. Setelah bertahun-tahun merantau, aku pulang untuk menengok kampung halaman dan berziarah ke makam orang tuaku.

Sejak aku menyadari 'kemampuanku' dan menerimanya, aku selalu berziarah ke makan pagi hari ketika matahari sepenggalah. Dan ini kali pertama aku mengunjungi makam orang tuaku.

Begitu aku dan kakak ku berdiri didepan pintu makam dan mengucap salam, cahaya-cahaya  sebesar bola tenis pun bermunculan diatas sebagian kuburan dalam posisi menunggu. Aku melihat aura harapan dari cahaya-cahaya itu.

Kuburan orang tuaku terletak ditengah. Gang sempit antar makam membuatku harus berjalan mlipir dan hati-hati. Agar tidak menyentuh  cahaya-cahaya itu.

Dimataku itu cahaya, tapi di mata anak indigo berupa sosok yang menunggu. Ada yang berdiri, ada yang duduk diatas nisan. Mereka adalah arwah-arwah orang yang dikuburkan didalamnya yang menyambut kunjungan kita dengan penuh harap. Mengharap didoakan.

Aku mengedarkan pandangan kesekeliling makam. Tidak semua kuburan ada penghuninya. Beberapa terlihat kosong. Aku menahan rasa penasaranku sekuat tenaga. Namun ketika melihat satu makam disamping makam orang tuaku kosong dan menjadi belukar, aku tidak mampu menahan diri untuk tidak bertanya.

"Kuburan siapa ini, bang?" tanyaku pada kakakku.
"Kuburannya si Jacky."
Aku kaget. "Si Jacky tukang Roti?"
Abangku mengangguk.

Di benakku langsung muncul bayangan si Jacky. Aku melihat dia berada disebuah rumah, didapur, bersama sesosok makhkuk. Jacky terlihat sedang sedih. Dan si makhluk membujuk Jacky bahwa kesedihannya akan hilang jika dia bunuh diri. Makhluk itu mengulurkan tali. Lalu kulihat tubuh jacky tergantung berayun-ayun di dipintu dapur.

"Dia bunuh diri..." bisikku lirih.
"Iya. Tahu darimana?"
"Kenapa?" tanyaku.
"Terjerat hutang."
"Oh...." rasa sedih mengaliri hatiku.

Mati bunuh diri, meski sulit bisa ditolong dengan doa, tapi mati membawa hutang, selamanya akan gentayangan. Tidak diterima bumi, ditolak langit. Jadi mustahil untuk membawanya roh nya ke pemakanan ini, agar bisa berkumpul dengan ahli kubur yang lain.

"Ayo kita berdoa," ajak abangku. Dia menyuruhku duduk disampingnya menghadap ke barat.

Kakakku mulai membaca doa ziarah kubur. Diawali dengan Al fatihah, dan diakhiri oleh Al Fatihah. Begitu kata "Aamiin" kami ucapkan serentak cahaya-cahaya di  atas kuburan berkelap-kelip semarak. Kilaunya mengalahkan cahaya matahari.

Ubub-ubunku terasa sejuk. Aku mengintip. Kulihat sosok ayah dan ibuku menyentuh dan mengelus kepala kami berdua sambil tersenyum bahagia.

"Ayo kita pulang," ajak abangku sambil berdiri. Aku ikut berdiri. Kami berjalan menuju pintu makam. Kedua orang tua kami ikut melangkah mengantar kepergian kami sampai pintu makam.

Aku melihatnya melambaikan tangan ketika kami berdua mengucap salam.

Lalu pelan-pelan kerlap-kerlip cahaya diatas makam pun menghilang. Masuk kembalike dalam kuburan masing-masing.

"Ayo, Mel." Tegur abang ku yang sudah duduk diatas sadel montor. Aku segera naik ke boncengan. Dan motor abang ku pun melaju meninggalkan areal pemakaman.

#see you NEXT. 😊


Tambahkan Komentar Sembunyikan

more Quotes