Sebuah Analogi...Jiwa!

Jika tubuh manusia dianalogikan sebagai sebuah negara,

👉 ​Nyawa adalah sumber energi utama atau pasokan daya nasional (seperti listrik/pembangkit daya)
👉​Jiwa adalah sistem pemerintahan,
👉​Sukma adalah berbagai kementerian, lembaga, militer, dan golongan masyarakat dengan berbagai macam karakternya.
​Jika tubuh manusia dianalogikan sebagai sebuah negara, 

👉 ​Nyawa adalah sumber energi utama atau pasokan daya nasional (seperti listrik/pembangkit daya) 

👉​Jiwa adalah sistem pemerintahan, 

👉​Sukma adalah berbagai kementerian, lembaga, militer, dan golongan masyarakat dengan berbagai macam karakternya (


Maka ​Pancer adalah Sang Pemimpin Tertinggi, Presiden, atau Raja yang duduk di singgasana pusat pemerintahan.
​Ia adalah pusat kesadaran tertinggi (eling) dan pemegang kendali mutlak. Jika sang pemimpin memiliki visi yang kuat, bijaksana, dan waspada (eling lan waspodo), seluruh kementerian dan rakyat di bawahnya (sukma) akan bersinergi membangun negara yang makmur dan seimbang. Namun, jika sang pemimpin lemah, lalai, atau kehilangan kendali, negara tersebut akan jatuh dalam kekacauan, konflik antar-golongan, kudeta dari hawa nafsu, hingga keruntuhan total dari dalam.

Untungnya, tubuh kita bukanlah negara dan pancer bukanlah presiden yang bisa di makzulkan, dilengserkan, atau fipecat dari jabatan.

Pancer adalah esensi yang kekal dan menjadi jangkar kehidupan manusia selama ia hidup di dunia. Oleh karena itu, Pancer tidak akan "hilang" begitu saja selagi seseorang masih bernyawa.

Bahkan ketika sukma merenggang jauh meninggalkan raga dan kesulitan untuk kembali, pancer masih bisa mengendalikannya. Melalui benang raga yang mengikat keduanya.

Apa itu benang raga?
Kenapa sukma bisa meninggalkan raga?

Tambahkan Komentar Sembunyikan

more Quotes