Mana Mataku? bag 3 | Selasa Seram

Selasa Seram | Mana Mataku? Bag 3

Lysana menggigit bibir bawahnya, merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Angin malam lereng gunung yang dingin mendadak terasa membakar kulitnya.

Bodoh. Kenapa aku harus melihat dengan mata kasar tadi? batinnya bergejolak cemas.

​Sebagai seseorang yang terlahir dengan anugerah—atau lebih tepatnya, kutukan—supranatural tingkat tinggi, aturan main dunia tak kasat mata sudah di luar kepala Lysana. Selama bertahun-tahun, ia bertahan hidup dengan satu prinsip mutlak: Jangan pernah melakukan kontak mata secara langsung dengan indra penglihatan fisik.

​Bagi para makhluk astral, tatapan mata kasar adalah sebuah undangan. Begitu pupil mata manusia terkunci dengan pandangan mereka, penghalang dimensi melemah. Makhluk-makhluk itu akan tahu bahwa keberadaan mereka disadari, dan yang lebih mengerikan, mereka bisa balik menatap, mengenali wajah sang pelihat, bahkan menempel atau mengikuti hingga ke rumah.

​Itulah sebabnya Lysana lebih mengandalkan mata batinnya. Penglihatan batinnya bekerja mirip radar atau mata elang yang melayang di udara, memindai dari kejauhan dengan sudut pandang orang ketiga. Lewat mata batin itu, dia bisa melihat sekelilingnya secara utuh—bahkan melihat wujud fisiknya sendiri yang berdiri di antara kerumunan warga, layaknya sedang menonton kamera pengawas dari atas. Cara itu aman. Benteng pertahanannya rapat.

Namun, rasa penasaran manusia terkadang adalah celah maut. Tadi, saat bisikan-bisikan aneh berkelebat di kepalanya dekat lokasi kecelakaan, keraguan sempat melintas. Apakah ini benar-benar entitas astral, atau hanya imajinasiku yang kelelahan karena cuaca dingin?
​Karena ingin memastikan, ia memutus fokus mata batinnya dan nekat melirik dengan mata kasarnya.  Seketika itu juga, tatapannya menubruk entitas melayang di hadapannya—sesosok bayangan remang dengan rongga kepala yang hancur dan satu sisi wajah yang kosong.

​Dan fatalnya, makhluk itu tahu dirinya terlihat.

​Deg!

​Dari jarak hanya beberapa jengkal, Lysana bisa merasakan gelombang dingin menusuk tengkuknya. Melalui sudut matanya, ia melihat bayangan melayang itu kini bergerak mendekat dengan kecepatan mengerikan, seolah menembus kerumunan warga yang sibuk berkerumun di sekitar jasad.

​Jangan panik. Jangan bereaksi, Lysana memperingatkan dirinya sendiri sambil memejamkan mata sejenak, mencoba kembali menarik kesadarannya dan mengaktifkan mata batinnya untuk melihat situasi dari atas.

​Di dalam dunianya yang sunyi batin, ia melihat proyeksi dirinya sendiri yang sedang berdiri kaku, sementara wujud roh Fajar yang compang-compang kini sudah berada tepat di hadapannya, merentangkan tangan tak berwujud, seolah memohon sesuatu dengan putus asa.

​“Tolong...” suara tanpa suara itu bergeming langsung di dalam kepala Lysana, begitu jernih, begitu memilukan.

​Lysana menarik napas dalam-dalam. Jantungnya bergemuruh hebat. Jika ia mengabaikannya, roh penasaran itu akan terus mengikutinya, merongrong tidurnya, atau bahkan membawa sial karena ikatan pandangan yang kadung terjadi. Tapi jika ia merespons... masalah besar bisa mengancam keselamatannya.  Makhluk astral lain di sekitar lereng gunung yang angker ini bisa saja ikut menyadari kemampuannya.

​Perlahan, Lysana membuka matanya. Ia menatap lurus ke arah kosong di depannya—menggunakan pandangan mata batinnya agar tidak terjadi kontak fisik langsung, namun cukup fokus untuk mengirimkan sinyal bahwa ia mendengarkan.

​“Apa yang kau mau?” balas Lysana memproyeksikan pikirannya, mencoba tetap tenang di tengah kepungan udara malam yang semakin mencekam. 💥bersambung

Next : Mana Mataku bag 4

Prev:  Mana Mataku bag 2

Tambahkan Komentar Sembunyikan

more Quotes