Hanya rasa dingin yang menusuk. Dan kekosongan yang menyesakkan di sisi kanan wajahku.
Keinginan itu datang seperti tarikan gaib yang tak tertahankan. Seolah ada magnet raksasa yang menyedotku turun ke kegelapan.
Aku, entitas tanpa bobot, melayang menembus bebatuan dan semak berduri. Jauh ke dasar jurang yang kelam.
Di sana, di antara lumut basah dan akar pohon yang mencuat, aku menemukannya.
Mataku.
Dia tergeletak di atas batu pipih yang berlumut, menatap kosong ke langit yang sama kelabunya dengan perasaanku sekarang. Tidak ada rasa ngeri yang kulihat. Hanya rasa kasihan yang ganjil. Lensa yang dulu merekam tawa ibu, senyum teman-teman di sekolah, sekarang kaku dan tak bernyawa.
Aku ingin mendekapnya.
Aku melayang turun, mengulurkan "tangan"—gumpalan kabut tipis yang menyerupai lenganku dulu—untuk mengambil bola mata itu. Aku berniat menyatukannya kembali, menempelkannya kembali ke rongga hampa di wajahku.
Namun, saat jari-jari cahayaku menyentuhnya, mataku itu seolah-olah terbuat dari air raksa. Tangan spirituilku menembusnya tanpa halangan sedikit pun. Bola mata itu tidak bergeser satu milimeter pun.
Aku mencobanya lagi. Dan lagi. Berkali-kali, dengan keputusasaan yang semakin memuncak. Aku mencengkeram udara, tapi hanya kekecewaan yang kuraih. Aku tidak bisa merasakan teksturnya, tidak bisa merasakan beratnya. Jurang antara duniaku dan dunia material begitu nyata, begitu kejam.
Aku hanya bisa melihatnya. Tidak bisa menyentuhnya. Tidak bisa menyelamatkannya.
Frustrasi dan kelelahan (jika roh bisa merasa lelah) membuatku tertarik kembali ke atas, ke jalanan aspal tempat jasadku terbaring kaku, kini dikelilingi oleh polisi dan beberapa warga yang sibuk. Suara mereka terdengar meredam, seperti dari kejauhan yang sangat jauh.
Tepat saat aku melayang di atas tubuhku yang hancur, pandanganku tertuju pada sosok yang berbeda di antara kerumunan.
Seorang gadis. Dia berdiri sedikit terpisah, tidak ikut berdesakan atau berteriak histeris seperti yang lain. Dia mengenakan kerudung biru navy dan jaket tebal. Wajahnya pucat, tapi matanya... matanya yang cokelat muda itu tidak menatap jasadku yang mengerikan.
Dia menatap ke atas. Tepat ke arahku.
Aku merasakan sentakan kejutan yang luar biasa. Tatapannya itu tidak kosong. Ada sesuatu di dalamnya yang membuat jantungku (atau apa pun yang tersisa dariku) berdebar kencang. Itu adalah tatapan iba. Sangat dalam, sangat tulus, seolah-olah dia bisa merasakan penderitaanku.
Dia melihatku.
Harapan samar-samar menyala dalam diriku. Aku menatapnya lekat, mengirimkan seluruh hasrat komunikasiku padanya. Aku ingin berteriak, memanggil namanya, memohon padanya. Tolong lihat aku! Aku ada di sini!
Gadis itu sedikit terperanjat. Tatapannya menjadi kaku sesaat, pupil matanya melebar. Tapi kemudian, dengan gerakan cepat dan terlihat terganggu, dia langsung membuang muka. Dia menundukkan kepala, pura-pura memperbaiki kerudungnya, menolak untuk menatapku lagi.
Tapi aku tahu. Aku yakin seyakin-yakinnya. Tatapan singkat tadi adalah tatapan pengakuan. Orang normal tidak akan menatap hampa ke udara dan kemudian tiba-tiba membuang muka dengan ekspresi ketakutan seperti itu. Dia bereaksi terhadapku.
Rasa putus asa kembali mendera, tapi kali ini bercampur dengan secercah harapan yang membara. Dia adalah satu-satunya tautanku dengan dunia ini. Dia adalah satu-satunya orang yang "mendengar"ku. Aku harus menjangkaunya. Aku harus membuatnya mengerti.
Aku tidak ingin mati dengan satu mata tertinggal di dasar jurang.
Tolong... bisikku dalam hati, melayang mendekatinya, mencoba memproyeksikan pikiranku langsung ke benaknya. Gadis berkerudung biru... tolong ambilkan mataku. 💥Bersambung bag 3
👉Next: Mana Mataku? Bag 3
👉Prev: Mana Mataku bag 1
Tambahkan Komentar Sembunyikan