Mana Mataku bag 4 | Cerita Horror

Selasa Seram | Mana mataku bag 4.
POV Fajar
Kebingunganku semakin menjadi-jadi. Suara itu begitu jelas bergema di dalam kepalaku, menyerupai gema di gua yang dalam. Tapi ketika aku celingukan mencari sumbernya, tidak ada siapa pun di sekitar selain kerumunan warga yang sibuk berkerumun di dekat jasadku, serta gadis berkerudung biru yang berdiri agak menyendiri.

​Mataku yang tersisa—yang kini hanya diwakili oleh kesadaran rohku—menatap Lysana dengan seksama. Apakah dia yang tadi bersuara di dalam kepalaku?

​Namun, pemandangan di depanku justru membuatku semakin bingung.
​Lysana berdiri dengan tenang. Wajahnya yang pucat tampak lurus menatap layar ponsel di genggamannya. Ibu jarinya bergerak cepat, mengetik sesuatu dengan gesit, seolah ia sedang membalas pesan penting di tengah situasi yang mencekam ini. Mulutnya terkatup rapat, tidak ada gerak-gerik bibir yang menandakan dia sedang berbiacara, apalagi memanggilku.
​Bukan dia? batinku bertanya-tanya, merasa gamang.

Tapi begitu aku mengalihkan pandangan untuk mencari sumber suara lain, sudut mataku menangkap kejanggalan pada jari-jari Lysana yang mengetik. Layar ponselnya menyala terang, dan apa yang diketiknya bukanlah sebuah pesan WhatsApp... melainkan kalimat yang membuat bulu kuduk rohku berdiri.
​Di layar ponsel itu, terpampang jelas kalimat:
‘Jangan menatapku langsung. Katakan apa maumu, aku mendengarmu lewat pikiran.’

​Mataku terbelalak kaget—atau setidaknya, itulah yang dirasakan oleh jiwaku. Gadis itu tidak berbicara dengan suara, dan dia tidak membuka mulutnya, tapi dia menjawab kebingunganku secara nyata lewat layar ponselnya sebagai kode!

​Aku tidak membuang waktu lagi. Meskipun aku ragu bagaimana caranya menyampaikan isi kepala tanpa suara, aku mencoba memproyeksikan niatku sekuat tenaga ke arahnya, mengarah tepat pada gadis berkerudung biru itu.

​‘Mataku...’ bisikku memohon dengan putus asa, mengirimkan bayangan visual tentang bola mata kananku yang tergeletak di dasar jurang yang gelap. ‘Mataku jatuh ke dasar jurang. Aku tidak bisa mengambilnya karena aku hanya roh. Tolong... ambilkan untukku.’

​Di dekat kerumunan, jempol Lysana yang tadinya mengetik seketika berhenti. Napasnya terlihat tertahan sesaat. Dia tahu aku baru saja menjawabnya.💥bersambung bag 5.

Next: Mana Mataku bag 5

Prev : Mana Mataku? bag 1

Tambahkan Komentar Sembunyikan

more Quotes