Mana Mataku? bag 5 | Selasa Seram

Selasa Seram | Mana Mataku bag 5

Jempol Lysana yang tadi sempat terhenti di atas layar ponsel kini kembali bergerak kaku. Napasnya memburu pelan, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar di hadapan para warga yang masih berkerumun.

​Di dalam benaknya, pikirannya berputar hebat.
​Dasar jurang lereng Gunung Lawu... Lysana tahu betul medan itu. Curam, licin, penuh semak berduri, dan sangat berbahaya jika dituruni di malam hari tanpa peralatan memadai. Terlebih lagi, meminta tolong kepada warga sekitar atau polisi yang sedang evakuasi adalah opsi yang mustahil. Jika ia nekat berteriak menyuruh mereka mencari bola mata yang jatuh ke jurang, ia hanya akan dicap sebagai orang gila, atau lebih buruk lagi, disangka terlibat dalam kecelakaan tersebut. Urusan dengan dunia gaib dan aparat kepolisian di waktu bersamaan adalah bencana besar yang harus dihindari.

Tapi di sisi lain, bayangan roh Fajar yang memohon dengan tatapan putus asa terus menghantuinya. Ada rasa iba yang mendalam di dadanya. Jika bola mata itu dibiarkan tertinggal di dasar jurang, jiwa Fajar tidak akan pernah tenang dan akan terus terikat di tempat ini.

​Aku harus membantunya, batin Lysana mantap. Tapi bagaimana caranya?

​Tiba-tiba, sebuah nama melintas di kepalanya seperti kilatan petir.
​Ismed.

​Lysana langsung teringat pada Ismed Hafiy. Sahabat karibnya, satu-satunya manusia di dunia nyata yang tidak hanya percaya pada kemampuan supranaturalnya, tapi juga paham betul bagaimana cara menghadapi situasi-situasi gila seperti ini tanpa panik. Ismed adalah penyelamat di setiap kekacauan gaib yang kerap menjerat Lysana.
​Tanpa membuang detik lagi, Lysana membuka aplikasi perpesanan di ponselnya dan mengetik cepat pesan suara untuk Ismed.

​‘Med, darurat. Lo sibuk nggak? Gue lagi di lereng gunung tempat kecelakaan tadi sore. Ada roh remaja korban kecelakaan yang matanya ketinggalan di dasar jurang. Gue butuh bantuan lo sekarang buat turun ke jurang dan ambil matanya.’

​Tidak butuh waktu lama bagi Ismed untuk merespons. Kurang dari satu menit, sebuah balasan masuk.

​‘Dasar nekat. Kirim shareloc sekarang. Jangan ke mana-mana, gue kesana bawa senter sorot sama tali.’

​Lysana mengembuskan napas lega. Ia melirik sekilas ke arah Fajar—yang melayang dengan wujud setengah transparan di sampingnya—lalu mengirimkan titik lokasinya pada Ismed.

​“Tunggu sebentar,” Lysana memproyeksikan pikirannya sekali lagi ke arah Fajar, berusaha menenangkan roh remaja itu.  “Temanku yang bisa diandalkan sedang jalan ke sini. Kita akan ambil matamu.”

​Bagaimana Ismed dan Lysana nantinya akan turun ke dasar jurang yang gelap gulita itu? Apakah mereka akan menghadapi rintangan tak kasat mata lainnya di dasar jurang? 💥Bersambung bag 6

Next: Mana Mataku? Bag 6

Prev: Mana Mataku? Bag 1

Tambahkan Komentar Sembunyikan

more Quotes